Arum Pager Kelompok Budidaya Lele Gunungkidul Yogyakarta menyediakan benih bibit Lele dan lele konsumsi
Arum Pager Kelompok Budidaya Lele Gunungkidul Yogyakarta menyediakan benih bibit Lele dan lele konsumsi
Arum Pager Kelompok Budidaya Lele Gunungkidul Yogyakarta menyediakan benih bibit Lele dan lele konsumsi Pusat Jual Bibit Leledan Lele Konsumsi di Gunungkidul - Kami kelompok budidaya ikan Arum Pager. Menyediakan benih lele dengan berbagai ukuran dan lele konsumsi. Komoditas utama benih lele dan lele konsumsi.
 
Arum Pager Kelompok Budidaya Lele Gunungkidul Yogyakarta menyediakan benih bibit Lele dan lele konsumsi

Pakan Alami : Manggot

Bahan baku utama sumber protein untuk pakan ikan adalah tepung ikan yang cenderung semakin berkurang dan harganya semakin mahal Maggot adalah salah satu bahan baku alternatif untuk mengantisipasi kelangkaan tepung ikan. Perekayasaan ini bertujuan untuk menghasilkan teknik produksi maggot secara massal.

Metoda yang akan dikembangkan adalah teknik pengumpulan telur atau larva maggot dengan cara menyebarkan bungkil sawit fermentasi dalam kenjang ke tempat-tempat di mana black soldier ditemukan. Dari kegiatan ini teruji bahwa produksi maggot dengan cara pengumpulan telur dan larva relatif lebih banyak hasilnya dibandingkan dengan teknik produksi maggot tanpa pengumpulan telur.

Bahan baku utama pakan ikan yang harganya cukup mahal ialah tepung ikan. Tepung ikan merupakan sumber protein yang berguna dalam memacu pertumbuhan ikan. Bahan baku pakan ini sampai sekarang sebagian besar pengadaanya masih mengandalkan dan kegiatan impor yang kecenderungannya semakinlangka dan harganya juga semakin mahal. Oleh karena itu perlu dicari sumber bahan baku lain pengganti protein non tepung ikan yang diharapkan ketersediaannya mudah serta harganya murah.

Maggot (ulat dan serangga black soldier) merupakan sumber bahan baku protein non tepung ikan yang diharapkan mampu berperan dalam mensuplai protein sesuai dengan kebutuhan ikan. Perolehan bahan ini dapat dilakukan secara budidaya dan dapat diproduksi secara masal. Hewan ini dapat diibaratkan sebagai mesin biologis yang mampu mengeluarkan enzim alami, sehingga bahan organik yang sebelumnya susah dicerna dapat disederhanakan dan besar kemungkinan bahan tersebut dapat jadi mudah dicerna, termasuk oleh ikan (Hem, S. 2005). Selain itu hewan sederhana ini memiliki kandungan antimikroba dan anti jamur, tidak membawa atau agen penyakit, kandungan protein cukup tinggi (30-45%), mengandung asam lemak esensial seperti linoleat dan inolenat, serta memiliki 10 macam asam amino essensial. Keistimewaan lainnya adalah hewan ini mampu hidup relatif cukup lama C ± 8 minggu) serta dalam pembudidayaannya tidak memerlukan teknologi tinggi.

Budidaya Maggot di Balai Besar Pengembangan Budidaya Air Tawar Sukabumi (BBPBATS) hingga tahun 2006 sudah berhasil diproduksi dengan cara menyiapkan media bungkil kelapa sawit (Palm Kernel Meal / PKM) fermentasi yang ditempatkan dalam wadah dengan sumber serangga black soldier (Hermentia illucens) dan alam. Dari beberapa kali produksi hasilnya tidak konsisten dan sulit diprediksi, oleh karenanya metoda budidaya maggot akan disempumakan dengan mengupayakan agar produk maggot lebih terkontrol. Dengan terkumpul telur ini, maka produksi maggot sudah dapat diprediksi dan segi kontinyuitas dan kuantitasnya.

OIeh karenanya, dalam perekayasaan ni akan dilakukan modifikasi dalam pentahapan budidaya maggot, yaitu pada pentahapan setelah proses fermentasi bungkil sawit, akan dilakukan penyebaran media ke berbagai tempat Iingkungan hidup black soldier seperti di taman bunga, kebun dan hutan. Dengan tahapan ini diharapkan serangga ini tertarik, kemudian kawin dan meletakkan telurnya dalam wadah yang sudah disiapkan. Langkah selanjutnya telur tersebut dikoleksi untuk ditetaskan dan diproses sebagaimana pernbudidayaan maggot. Dengan perbaikan mi semua tahapan dalam budidaya maggot diharapkan dapat terukur, sehingga produksi maggot dapat dikendalikan sesuai dengan yang diinginkan.

Menghasilkan bahan baku pakan sumber protein berupa maggot dalam jumlah relatif banyak, untuk dijadikan sebagai substitusi tepung ikan pada pakan ikan. Diperoleh maggot dalam bentuk tepung ikan sebagai sumber protein hewani dalam penyusunan formula untuk pembuatan pelet/pakan ikan.

Bahan-bahan yang digunakan Serangga black soldier, bungkil kelapa sawit sebanyak 10 ton dan bahan fermentasi. Alat-alat yang digunakan antara lain kantong plastik, jolang 100 bh, kandang untuk pemeliharaan serangga black soldier 1 unit, dan drum plastik 10 bh.

Prosedur dalam kultur massal maggot adalah sebagai berikut :
1. Fermentasi Bungkil Sawit (PKM), Bungkil sawit dimasukkan ke dalam drum plastik, tiap drum diisi sebanyak kurang lebih 50 kg. Tambahkan cairan rumen, dan isi perut kambing atau sapi sebanyak 5-10%, campur dengan air sehingga 3 kali lipat dan jumlah bungkil sawit. Isi rumen ini dimaksudkan sebagai sumber mikroba yang diperlukan dalarn proses fermentasi. Selama proses fermentasi, drum plastik dalam kondisi terlindung, ditutup rapat. Proses fermentasi dalam kondisi anaerob. Waktu yang diperlukan antara 10-14 hari. Bungkil sawit fermentasi ini digunakan sebagai media untuk menanik black soldier untuk mau menempatkan telurnya, dalam wadah yang sudah disiapkan, karena bahan ini memiliki bau yang khas.

2. Koleksi Telur Maggot, Untuk mendapatkan telur maggot, dilakukan dengan cara menempatkan keranjang antara lain bambu, ukuran 30 x 20 x 20 cm yang diisi dengan PKM fermentasi sebanyak 2 kg. Serangga black soldier yang sudah dewasa akan tertarik dengan bau PKM fermentasi kemudian kawin dan menempatkan telumya ke dalam dinding keranjang. Telur yang sudah menempel dalam keranjang bisa dilakukan pemanenan telur atau langsung ditetaskan dan dipelihara sementara waktu dalam keranjang.

3. Budidaya Maggot, Telur maggot berada dalam atau maggot kecil yang keranjang selanjutnya dipelihara dalam bak semen ukuran 1 x 1 ,5x I m dan baskom ukuran volume 25 1. Sebagai kontrol dilakukan pula produksi maggot dalam bak semen tanpa dilakukan terlebih dahulu koleksi telur. Pemberian PKM sebagai bahan pakan maggot dilakukan setelah maggot usia 5-14 hari, jumlah pemberian kurang Iebih 3-10% dan biomas maggot, setiap harinya diberikan satu kali. Pemeliharaan maggot berkisar 10-15 hari.

4. Panen Maggot dan Penepungan, Panen maggot dilakukan dengan cara memisahkan maggot dengan media kultur, kemudian dibilas dengan air. Maggot selanjutnya dicampur dengan dedak, dengan penbandingan 3 maggot dan 1 bagian dedak. Campuran tersebut selanjutnya dicetak dalam mesin pelet basah. Bahan pakan maggot ini kemudian dikeringkan dengan menggunakan oven pada suhu 60°C. Proses pengeringan memerlukan waktu 12-15 jam. Bahan ini selanjutnya digiling sampai berbentuk tepung halus dengan menggunakan disk meal

Tepung magot ini merupakan bahan baku pakan ikan yang kaya dengan kandungan protein, sehingga diharapkan dapat menggantikan atau mensubstitusi posisi tepung ikan dalam pakan.

Sumber : BBPBAT, Sukabumi

0 komentar:

Poskan Komentar